Selasa, 16 September 2008

Menuju taqwa yang sebenarnya

JALAN MENUJU MUTTAQIEN
NUR HAFID

Bulan ramadlan memang bulan yang penuh ketenangan, umat islam melaksanakan ibadah puasa dengan khusuk tanpa gangguan suatu apapun. Sumber kemaksiatan sudah ditutp rapat oleh aparat penegak hukum. Kita selalu menyaksikan rutinitas ramadlan operasi aparat keamanan terhadap tempat – tempat maksiat lokalisasi, tempat perselingkuan, karaoke dan aneka macam hiburan lainnya, sehingga kita berharap puasa kita dapat betul-betul akan mencapai tujuan Lilmuttaqien (menjadi orang yang bertaqwa).
Cuman kadang-kadang hati kecil saya bertanya “ apakah kemaksiatan itu hanya pada bulan ramadlan saja … ?” karena kesan yang saya tangkap adalah operasi-operasi tersebut hanya dilakukan pada bulan ramadlan. Ini bukan berarti saya tidak setuju dengan kegiatan operasi tempat maksiat tersebut…. Saya sangat mendukungnya dan acungan jempol dua. Tapi dari pengalaman yang sudah, kegiatan semacam itu hanyalh tradisi ramadlan, setelah bulan ramadlan usai sumber-sumber kemaksiatan tersebut berjalan lagi seperti sedia kala, bahkan media massa sering merilis bahwa setelah lebaran (Idul ftri maksudnya) justru pelakunya bertambah karena si wanita penghibur (sebut saja PSK) akan membawa teman baru dari kampungnya. Kalau kita mau mengkaji lebih dalam akan makna puasa, sebetulnya puasa itu bukan finalisasi akan tetapi sebaliknya, puasa hanya merupakan jalan untuk menuju pertaubatan sesungguhnya. Jika yang terjadi seperti di atas maka puasa kita bisa dikatakan hanya mendapat lapar dan dahaga dan pertaubatan yang dilakukan sebulan lamanya, hanyalah taubat cabe rawit setelah taubat kita kerjakan maksiat lagi.
Alkisah seorang resi sebut saja Resi Baratwaja namanya, membangun sebuah padepokan tidak ditempat yang sunyi dan terpencil, melainkan ditengah hingar bingar kesibukan penduduk, bahkan kadang-kadang terasa amat bising. Disaat mereka memanjatkan do’a dimana memerlukan suasana yang hening agar do’a mereka tulus keluar dari hati yang khusu’, kebisingan tetap berjalan dan tetap mengganggu konsentrasi mereka. Baratwaja mengangap apa yang dilakukannya sudah benar, baginya berdo’a ditempat yang bising tapi tetap bisa khusu’ akan lebih baik disbanding berdo’a ditempat yang sepi. Karena menurut beliau jika berdo’a ditempat yang sepi semua orang mesti akan khusu’.
Santrinya berpendapat lain, jika ini dibiarkan mereka tidak akan bisa berdo’a dengan tenang. Maklum namanya santri biasanya tataran akhlaqnya belum begitu sempurna, yang keluar emosinya.” Maha Resi,” kata salah satu santri dengan nada tinggi, “sekali dua kali aku sabar menghadapi gangguan hingar bingar suara maksiat tetangga kita sebelah. Kesabaran kan ada batasnya Resi.”
“Kamu benar santriku” jawab sang resi dengan nada rendah
“Jika Maha Resi merestui, saya bisa menutup tempat maksiat disebelah padepokan kita ini”, kata santri kemudian dengan nada optimis.
“Jangan. Kita harus Sabar,” kata Resi
“Sampai kapan kita harus sabar? Saya kira kesabaran resipun ada batasnya,” Jawab santri itu lagi. “Kita tak mau terus menerus diganggu seperti ini, ini pelecehan.”
“ Sekali lagi kamu benar, santriku. Tetapi lupakah kamu bahwa kita berdo’a, kita berpuasa, itu artinya kita sedang ngomong masalah cinta, cinta kepada Tuhan dan dengan bahasa cinta-Nya pula? Kita sedang membuktikan bahwa kita taat, tunduk dan patuh kepada Nya. Kamu kira, layakkah kita lapor tentang cinta kepada Nya, akan tetapi diam-diam diluar kita membenci, bahkan menghancurkan mahluq Nya? Cinta macam apa jadinya ingat Tuhan telah menyatakan “Innallohi ma’assoobirin” Tuhan akan selalu beserta orang-oarng yang sabar”. Jawab sang Resi dengan tenang dan jelas tampak kearifannya.
Harus diakui bahwa secara sembunyi-sembunyi kita mempunyai sifat egoisme yang tinggi dalam hal ibadah. Kita paksa orang lain untuk berbuat toleransi kepada kita tetapi sebaliknya kita tidak mau mentolerir apa yang mereka kerjakan. Apakah perbuatan kita sebagai umat Islam sudah tepat, bukankah Agama Islam mempunyai ajaran Rahmatan Lil ‘alamin, itu artinya Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
Kembali kepada hakikat ibadah puasa, sebetulnya adalah merupakan penempaan diri kita. Kita berpuasa itu artinya kita sedang belajar untuk lapar, menahan dari nafsu kita dengan kata lain setelah kita belajar kelaparan selama satu bulan penuh, kita akan empaty pada teman-teman kita, saudara-saudara kita yang mungkin masih “kelaparan”. Setelah lulus dari latihan, sifat kebinatangan kita diharapkan akan hilang, kita tidak lagi makan makanan yang bukan hak kita, kita tidak lagi makan semen, aspal dan makan saudara kita sendiri. Sehingga kita terhindar dari “Asfalassafilin” serendah-rendahnya mahluq.
Oleh sebab itu ibadah puasa menurut Tuhan, adalah ibadah yang dilakukan hanya untuk Nya dan yang akan “meng gaji” hanyalah Tuhan. Itu artinya hanya tuhan yang tahu dan berhak menerima ibadah puasanya. Karena banyak umat Islam (termasuk yang mengaku-ngaku Islam) berpenampilan lapar, kelihatan lemas akan tetapi diam-diam diwarung yang sepi kita makan. Hal ini berbeda dengan ibadah lain, Sholat misalnya kita kalau tidak sholat akan kelihatan orang lain, tapi puasa tidak, hanya Tuhan yang tahu kita puasa apa tidak. Sehingga ibadah puasa dijadikan takaran sampai sejauh mana ketaatan dan kecintaan kita terhadap Nya.
Saya mengingatkan sebetulnya kita ini sering berlaku kemunafikan kepada Tuhan, bayangkan kita 5 kali dalam sehari bersumpah kepada Tuhan “Innasholati, wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillah” Sesungguhnya sholatku, ibadah hajiku, bahkan hidupku dan matiku hanyalah karena Alloh semata. Tapi diam-diam kita menginggkarinya, kita sholat, haji karena sesuatu lain, ini bisa karena macam-macam bisa karena bisnis, jabatan dan lain-lain. Apakah itu tidak munafik namanya ?
Akhirnya perjalanan ruhani selama puasa, bentuk amalan selama puasa memang sama. Haus dan laparnya sama. Tapi tidak dalam hal kualitasnya, sikap jiwa ketika berpuasa itu dilakukan, mungkin tidak bisa sama. Padahal dalam beribadah kepada Nya kualitas itulah yang menentukan. Semoga puasa kita selama ini akan betul-betul dapat menjadi jalan untuk mencapai kesucian diri betul-betul fitrah. Dan kemaksiatan yang sudah dihentikan selama bulan ramadlan tidak kembali lagi.

Tidak ada komentar: